Monday, May 28, 2012

tanah: sumber & tujuan untuk semua


Wendell Berry, seorang akademis, kritikus ekonomi dan budaya yang juga penulis dari Amerika ini dalam bukunya yang berjudul The Unsettling of America (1978) berkata, "Tanah merupakan penghubung terbesar dari kehidupan manusia, sumber dan tujuan untuk semua." Ya. Tuan Berry ini sama sekali tidak berlebihan.

Manusia cenderung melupakan karunia Allah yang satu ini. Manusia seringkali merasakan pentingnya udara dan air, tetapi lupa dengan apa yang dipijaknya. Tidak hanya sekedar lupa, tapi juga sering memaki-maki bila tubuh terkena tanah. Kotor, katanya.

Lapisan tipis yang menyelimuti bumi dan yang menjadi tempat bersemayamnya akar makhluk Allah berupa tumbuh-tumbuhan dan pepohonan sesungguhnya sangat istimewa. Bahkan keistimewaannya terpapar dalam Al-Qur'an.

Dalam surat al-Hajj ayat 5, Allah berfirman kelahiran manusia diciptakan dari tanah. Dalam ayat itu pula dikisahkan proses hujan, "...Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." Poin kedua inilah yang kemudian terbukti secara ilmiah melalui penelitian seorang ilmuwan dari Inggris yang bernama Robert Brown (1827) mengenai tanah yang bergetar.

Brown menemukan bahwa ada tiga tahapan yang terjadi pada tanah setelah dibasahi air hujan. Tiga tahapan ini bisa dikaitkan dengan firman Allah yang dijelaskan sebelumnya:
  • "...hiduplah bumi itu..."; tahap pertama adalah bumi bergetar. Getaran tersebut disebabkan oleh terionisasinya partikel-partikel yang ada dalam tanah akibat terkena tetesan air hujan yang bergerak secara acak dan jatuh mengenai tanah di berbagai sisinya. Terionisasi secara positif karena jatuhnya aliran listrik. Terionisasi secara negatif karena kenaikan aliran listrik.
  • "...dan suburlah..."; tahap kedua adalah tahap penyerapan air. Partikel-partikel yang terbentuk pada lapisan-lapisan tanah tersebut menyerap air dan kemudian tumbuh membesar, sehingga tanah tersebut menyediakan air agar organisme dan bibit-bibit hidup.
  • "...dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah."; proses dimulainya pertumbuhan bibit menjadi tumbuh-tumbuhan yang indah adalah tahapan ketiga. Fertilisasi ini terjadi oleh karena tanah yang tadinya terlihat mati menjadi sesuatu yang hidup berkat kehadiran air dan akhirnya menyediakan kehidupan agar tumbuh-tumbuhan itu berkembang.
Hal inilah yang membuat tanah sebagai sumber kehidupan. Selain itu tanah juga merupakan tempat kembalinya tumbuh-tumbuhan tersebut. Ketika tumbuhan berkembang, matang, lalu membusuk, dan akhirnya gugur kembali ke tanah. Ada yang berguguran, ada pula yang tumbuh. Terus-menerus. Proses regenerasi ini yang membuat kehidupan ini terus berlangsung sesuai kehendak-Nya.

Ini berlaku bagi tubuh semua makhluk-Nya, termasuk manusia. Tubuh manusia diciptakan dari tanah, tumbuh, dan kemudian berkembang. Dari tahun ke tahun tubuh mencapai titik kematangannya. Setelah tua, ia pun renta. Akhirnya ketika ruh itu berpulang, tubuh tertanam kembali ke tanah. Tanah menjadi tujuan kehidupan di dunia bagi semuanya.








Friday, March 2, 2012

i love you just the way you are...

....so please don't change.
if you want to change, just be a better person than you used to.
by listening more, talking less,
giving smile, warm eyes, & helping hands.
so let people know the world is a good place to live in.

Thursday, February 23, 2012

simfoni semesta


Menurut Phytagoras, Tuhan menciptakan semesta dengan matematika. Saya percaya itu. Karena segala sesuatu yang diciptakan-Nya amat detil dengan presisi yang mahateliti, hingga tak ada setitik atom pun luput dari perhitungan-Nya.

Tak hanya itu. Saya percaya sekali Tuhan menciptakan semesta dengan tidak hanya sekedar matematika. Melainkan matematika yang harmonis, beritme, dan bermelodi. Harmonis secara kompleks dan beragam, yakni dengan sebuah simfoni.

Simfoni atau orkestra yang bisa dirasa dan dilihat manusia di dunia ini adalah sebuah lagu atau senandung yang sangat indah yang tercipta dari gabungan nada-nada yang tidak asal bunyi. Gabungan nada-nada yang mengikuti sebuah aturan, sebuah sistem, yang mana apabila satu nada menyalahi aturan itu, lagu itu menjadi rusak. Nada-nada tersebut keluar dari beranekaragam alat musik seperti piano, perkusi hingga biola. Nada-nada itu sendiri merupakan kumpulan not-not melodis yang masing-masing punya hitungan teratur atau ketukan sendiri. Not-not dengan hitungan masing-masing itulah matematika yang melodis. Not-not itu bisa menjadi perumpamaan bagi setiap makhluk hidup ciptaan Allah, yang dalam dirinya punya detak jantung masing-masing, dengan ritme masing-masing. Aturan itu juga merupakan perumpamaan bagi keharusan manusia untuk berbuat baik. Siapapun, tidak pandang bulu, wajib melakukan hal-hal baik sesuai perannya demi kemanusiaan, demi keberlangsungan kehidupan yang berkesinambungan.

Bukankah itu mungkin maksud Tuhan menciptakan kehidupan dan meminta manusia untuk menyikapinya? Hidup harmonis dalam keberagaman?

Hidup harmonis dalam keberagaman memang tidak semudah yang dibayangkan dan tidak mudah dilakukan. Kecenderungan manusia adalah merasa yang paling benar dan kurang bisa menerima perbedaan. Inginnya semua manusia punya pemikiran yang sama, kebiasaan yang sama, bahkan keyakinan yang sama.

Bayangkan bila semesta ini hanya terdapat planet yang sama dengan bumi. Bayangkan bila semua manusia punya pola pikir dan kebiasaan yang sama. Lantas apa yang ada? Hidup ini tentunya kosong tanpa makna. Makna justru ada ketika perbedaan itu ada. Makna justru ada ketika manusia mengalami pembelajaran. Pembelajaran menerima perbedaan yang warna-warni kelap-kelip itulah yang melahirkan sikap bijaksana.

Jadi, mulailah untuk tidak berharap mengubah manusia lain. Manusia bisa berubah dengan sendirinya. Keinginan berubah hanya dari dirinya sendiri. Bukan karena hasutan, tuntutan, dan lainnya. Satu-satunya yang bisa diubah adalah cara benak ini menerima dan memandang dunia. Perbedaan itu justru memperkaya. Semesta ini sungguh kaya keindahan karena ragamnya yang berjumlah maha, tak terhingga. Karena nyatanya keragaman itu merepresentasikan keindahan yang paling maha. Satu Zat. Sang Pencipta semesta.

kenikmatan sejati


Demi kenikmatan, tubuh saya pernah merasa tersiksa.

Kenikmatan ada dimana-mana. Nikmatnya makan coklat, nikmatnya berenang, nikmatnya tiduran sembari ditemani musik favorit atau membaca buku yang menyentil jiwa.

Tetapi ada kenikmatan yang belum pernah saya rasa. Salah satunya adalah merokok. Heran dengan banyak teman yang rela dihukum karena merokok atau menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Saya pun ingin tahu kenikmatan di baliknya. Maka ketika duduk di bangku SMP, ada niatan untuk mencoba. Tetapi sekali saya hisap puntung rokok itu, saya terbatuk dan kemudian hampir muntah. Langsung trauma. Sejak itu saya berjanji pada diri sendiri untuk tak akan menyentuh barang kecil berbau khas itu.

Ketika kuliah, saya mengabaikan janji itu. Terinspirasi mantan pacar. Yang tadinya tidak merokok, jadi perokok berat. Memandanginya meletakkan benda mungil di mulutnya dengan jari jemarinya yang terkulum ringan, menghisapnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskan asap dari mulutnya. Matanya sesekali menyipit. Kenikmatannya terasa sekali pada orang yang melihat dengan saksama seperti saya. Saya pun tergerak untuk melakukan hal yang sama. Sembunyi-sembunyi di wc umum sebuah mal. Dengan penghayatan yang sama pula. Dan apa yang terjadi? Kali ini saya muntah betulan.

Cukup di situ. Sungguh bodoh saya. Dalam hati saya bersyukur, untung saya melakukannya di wc umum. Seandainya saya mencobanya di depan mantan pacar saya yang perokok berat itu, atau di depan teman-teman perempuan saya yang mayoritas perokok, atau di halte dimana banyak orang menunggu bis sembari merokok. Mungkin lebih dari cemooh yang akan saya terima.

Mengenai perempuan merokok, sempat terjadi diskusi kecil-kecilan ketika menanti jam masuk kuliah di Depok dulu. Pada waktu itu hampir semua gempar melihat Demi Moore yang berpose sebagai sampul majalah asing terkemuka, dengan baju maskulin plus cerutu bergelayut di bibirnya. Sejak itu banyak perempuan tampil maskulin dengan puntung rokok bergelayut di bibir mereka. Yah apa daya, mampunya beli rokok, bukan cerutu.

Dalam diskusi itu teman perempuan saya mengaitkan keseksian dengan rokok. Katanya perempuan merokok itu seksi, seperti Demi Moore. Bagi saya sebenarnya, apa saja yang dilakukan Demi Moore itu seksi tanpa harus ada rokok ataupun cerutu di bibir. Seksi dengan rambut cepaknya yang ditiru sejuta umat perempuan sedunia, tampil bugil kala hamil yang ditiru puluhan artis sedunia, termasuk seorang artis lokal kita, tampil mempesona di film the new Charlie's Angels sampai-sampai banyak penonton tidak menggubris kehadiran ketiga malaikat dalam film itu. Keseksian dia yang lain saya tidak tahu, mungkin bisa ditanyakan pada Ashton Kutcher.

Lalu dari situ, saya buat riset kecil-kecilan juga dengan bertanya pada beberapa teman lelaki. Yang membuat saya terlonjak adalah kesaksian mereka bahwa perempuan yang merokok itu sama sekali tidak tampil seksi. Kata mereka perempuan seksi itu adalah perempuan yang mengerti femininitasnya dan dapat mengeksplorasi kefemininannya itu dengan penuh percaya diri. Bukannya dengan membangunkan sisi maskulinitas lalu ikut-ikutan kebiasaan lelaki seperti merokok. Itu kata beberapa teman lelaki saya yang memang tidak suka dugem. Harusnya saya tanya juga kepada beberapa yang suka dugem atau bergaul kesana kemari. Mungkin jawabannya berbeda.

Yah, itu dari sekedar ingin tampil seksi. Tapi bagaimana dengan yang memang mencandu? Candu itu berasal dari nikmat. Proses kenikmatan itulah yang pernah saya cari, dari ikut-ikutan teman dan terinspirasi dari mantan pacar. Dan nyatanya kegagalan yang saya raih.

Kalau ditanya mengapa saya tidak merokok. Bukannya karena saya perempuan konservatif. Bukannya karena saya tahu ada seribu satu racun yang terkandung dalam satu hisapan rokok. Tetapi karena tubuh saya yang tidak mau dan tidak dapat menerima.

Hal ini terjadi pula ketika saya mencoba untuk ikut-ikutan menikmati minuman anggur atau wine. Waktu itu saya masih berkuliah di kota pelajar negeri kangguru. Sudah menjadi tradisi di sana seusai ujian akhir, satu kelas berpesta di sebuah rumah salah satu murid. Karena teman saya sudah menyediakan rumah, maka yang lainnya termasuk saya wajib membawa perbekalan untuk dicemil. Sebagian besar membawa wine, ada juga yang bawa coklat, sementara saya membawa keripik kentang. Awalnya tidak pede, tapi nyatanya, keripik kentang yang saya bawa justru yang paling laris dicemil.

Gelas-gelas wine tersedia menyebar di meja bundar. Karena kita duduk melingkari meja tersebut. Bercanda ria, sambil saling mencela. Lama-kelamaan saya bosan dan tiba-tiba saja hinggap rasa penasaran saya untuk mencoba segelas wine yang tersedia itu. Tanpa rasa takut ataupun dosa, saya ambil satu, yang terisi wine putih. Meski sebelumnya teman-teman saya yang semuanya native itu menyangsikan saya bisa minum, akhirnya bisa menerima bahwa sepertinya tidak ada gejala aneh yang hinggap pada diri saya. Maka saya pun ditawari segelas lagi. Kali ini wine merah. Kata satu teman saya, sebelum minum yang merah, harus minum segelas air mineral dulu. Saya turuti saja, tanpa tahu itu untuk apa. Lalu saya tenggak yang merah. Rasanya biasa saja. Saya penasaran bagaimana rasanya mabuk. Karena saya tahu, puncak kenikmatan adalah ketika mabuk. Saya tenggak lagi yang merah. Sekali lagi, tanpa rasa takut dan dosa. Padahal saya tahu ibadah saya selama 40 hari ke depan nanti tidak akan diterima.

Sepulang dari rumah teman, saya nyaris tidak merasakan apa-apa yang aneh dalam diri saya. Termasuk rasa nikmat yang saya cari. Padahal saya sangat sadar bahwa saya sudah menenggak sekitar 5 gelas wine. Harusnya saya sudah mabuk atau at least merasakan kenikmatan yang dipuja-puja penggemar wine. Sepanjang perjalanan pulang saya rasa-rasa, tetapi sia-sia belaka. Saya baru merasakan hal aneh pada diri saya sesampai di flat. Tiba-tiba saja tubuh saya gatal-gatal dan muncul bintik-bintik kemerahan di sekujur tubuh. Saya panik. Apakah saya keracunan. Roommate saya pun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Obat apa yang harus saya minum pun saya dan roommate tidak tahu. Akhirnya dengan menebas rasa sejuta malu, saya menelpon ibu di Indonesia. Saya mengaku dosa bahwa saya telah minum. Dan saya gatal-gatal. Dengan suara lembut ibu saya bilang untuk minum incidal yang memang sudah disiapkan ibu ketika saya hendak kembali menempa ilmu. Betul benar. Sejak minum obat itu, perlahan-lahan gatal itu sirna. Ternyata, kata seorang teman yang bukan roommate saya, saya alergi yeast. Ampun!

Kalau ditanya kenapa saya tidak minum. Bukannya, sekali lagi, karena saya perempuan konservatif. Bukannya saya tahu khmar atau minuman sejenis dilarang untuk diminum oleh agama, karena dosanya lebih besar ketimbang manfaatnya. Tetapi karena, sekali lagi, tubuh saya yang tidak mau dan tidak menerima.

Nyatanya meski pernah tersiksa demi kenikmatan, itu tidak pernah membuat saya kapok untuk terus mencari. Butuh waktu tidak lama untuk akhirnya saya menemukannya. Pertama yakni dari secangkir kopi. Kata orang bijak, kenikmatan itu baru dapat dirasa ketika tidak hanya satu indera yang bekerja dan terangsang ketika mencecap sesuatu. Dan semua itu saya dapat dari secangkir kopi. Tidak hanya indera pencecap saya yang dimanjakan oleh rasanya yang khas, tetapi juga indera penciuman, dimana rasa dihantarkan olehnya ke benak sampai-sampai saya merasa produktif ketika meminum kopi. Kalau kata orang kopi membuat orang tidak tidur. Itu tidak berlaku pada saya. Dan saya akui kalau saya saat ini mencandu kopi yang kehadirannya di bumi sungguh merupakan berkah bagi saya dari-Nya.

Ketika saya menikah, saya temukan lagi kenikmatan lainnya yang membuat saya lebih bahagia. Yakni dari bercinta (sudah jelas semua indera termanjakan), rasa setelah melahirkan ketika melihat bayi yang sehat dan sempurna keluar dari rahim (indera penglihatan dan peraba terangsang, yaitu ketika mendekap bayi yang masih sedikit berlumuran darah dan asyik mengonsumsi ASI yang pertama), dan ketika saya bercanda dengan ketiga buah hati (indera penglihatan, peraba, dan pendengaran).

Terlebih lagi ketika keimanan diasah. Dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an, sholat, berzakat, dan berpuasa, saya juga merasakan kenikmatan itu. Karena saya baru tahu bahwa dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an dengan tajwid yang benar dapat merangsang tidak hanya indera penciuman, tetapi juga indera pendengaran. Karena pada saat mulut melafalkan ayat-ayat tersebut ada dengungan yang keluar dari hidung tetapi masuk ke dalam telinga yang kemudian membuat benak terlena.

Sholat pun demikian. Ketika saya merasakan komunikasi secara langsung dengan Tuhan, dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an serta doa-doa sembari saya tundukkan kepala. Karena saya tahu Dia ada di sana mendengar pinta saya, makhluk sebutir pasir di tengah lautan. Kepasrahan yang dalam itu yang membuahkan kenikmatan, dimana tubuh saya tergetar. Dari zakat, saya bisa merasakan kebahagiaan orang lain yang justru membuat saya lebih bahagia. Itu juga membuat saya tergetar, bahkan hampir menitikkan air mata. Dari puasa, saya merasakan kenikmatan berupa kesehatan lahir batin. Kalau haji saya belum tahu, tetapi saya yakin akan ada kenikmatan yang maha mutlak yang akan saya raih apabila saya singgah di rumah-Nya.

Pada akhirnya saya menemukan kenikmatan yang tidak menyiksa tubuh saya. Dan itulah kenikmatan sejati.

Saturday, December 17, 2011

serba cepat itu (belum tentu) tepat

mungkin Anda adalah salah satu saksi masa transisi dunia yang terjadi saat ini.

ingatkah dulu kita hanya terpuaskan menonton acara dari satu saluran televisi? untuk menelepon seseorang ketika kita di luar rumah harus mencari telepon boks? mengabadikan momen kebersamaan dengan kamera berfilm gulungan? mengetik dengan mesin tik? menulis surat cinta kepada kekasih di negeri nun jauh di sana yang kemungkinan untuk sampai di tangannya sama besarnya dengan kemungkinan tidak sampai? last but not least, sarapan dengan makanan khas daerah asal seperti nasi uduk, bubur kacang hijau, ubi rebus atau singkong goreng?

sekarang zaman telah berubah. di era modernisasi dan globalisasi saat ini, segalanya memang harus (atau wajib?) berjalan cepat. kita pun dituntut berlagak seperti sprinter di perlombaan marathon. yang masih berpaham alon-alon asal kelakon (biar lambat asal selamat) akan tertinggal jauh di belakang. berpikir cepat, melangkah cepat, dan bertindak cepat. itu sepertinya merupakan hal yang tepat.

demi persepsi tersebut lantas orang mendewakan teknologi baru yang menawarkan 3 in 1, yakni kegunaan, kecepatan, dan ketepatan.

lihat saja sekarang di televisi. ingin melihat dan mendengarkan musik ada di saluran A, film kartun anak-anak di saluran B, informasi tentang dunia terkini di saluran C, dan lainnya. tombol remote tinggal ditekan untuk memilih.

penggunaan handphone jelas jauh lebih praktis ketimbang harus mencari telepon boks. sifatnya yang portable (bisa dibawa kemana saja) dan wireless (nirkabel) menjadi keunggulannya. tidak seperti telepon boks yang harus dicari dulu. dan hebatnya lagi, dengan handphone kita tidak hanya bisa saling bersapa, tetapi juga mengabadikan momen kebersamaan tanpa harus repot menggunakan kamera, mendengarkan musik, bahkan mencari informasi melalui internet.

sedangkan kamera yang serba digital menjadi pilihan terbaik bagi penyuka penyimpan momen indah dalam hidup. tinggal jepret, lalu bisa disimpan di komputer atau laptop ataupun langsung dicetak dengan printer. hasilnya pun optimal. tidak membutuhkan larutan biru, ruang gelap, ataupun jepitan pengering.

mengetik dengan mesin tik? terbayangkan bila kita salah tulis sealinea saja, tidak bisa dihapus. harus ganti kertas. ini jelas pemborosan. menyampah pula. jauh lebih efektif dan efisien mengetik di komputer. untuk ini kita harus berterima kasih kepada Bill Gates yang telah menciptakan berbagai program untuk menulis teks, berhitung, bahkan menggambar.

email ataupun jasa Facebook menjadi sarana untuk bertukar rindu pada tak hanya kekasih tetapi juga teman. menulis surat panjang lebar tanpa dibebankan biaya jauh dan tak membutuhkan waktu lama untuk bisa dibaca oleh mereka, lebih menguntungkan dibandingkan melalui pos. serunya lagi, kita bisa bertatap muka lewat layar komputer.

yang terakhir, dari mie, pasta, sop, sampai bubur instan menjadi alternatif sarapan bagi yang super sibuk. persiapannya hanya butuh 3 menit. demi sampai ke kantor on time, sudah tentu persiapan menu sarapan pun tidak boleh memakan waktu lama. tidak merepotkan dan lezat pula. bandingkan bila harus membuat nasi uduk yang persiapannya bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam. bayangkan. harus bangun jam berapa untuk bisa membuat nasi uduk, mempersiapkan diri untuk ke kantor, mempersiapkan anak ke sekolah, dan lainnya?

tetapi betulkah serba cepat itu tepat?

tanpa disadari, di balik penghilangan waktu, ada banyak hal berharga yang menghilang pula.

ingatkah dulu ketika kita bosan melihat acara yang ditawarkan oleh satu saluran televisi itu, kita mengalihkan kegiatan kita jauh dari layar kaca televisi untuk melakukan kegiatan yang lebih positif? sebut saja melakukan hobi ataupun memasak bersama keluarga.

ingatkah dulu dalam perjalanan mencari telepon boks, kita berjumpa dengan tetangga, lalu mengobrol sampai lupa waktu? atau rela menunggu orang lain yang sedang menelepon dengan penuh kesabaran sampai pada giliran kita?

ingatkah dulu ketika mencetak film gulungan, kita harus amat sangat berhati-hati agar film tidak terkena cahaya sehingga harus dibuka di ruang gelap? lalu mencetak dengan larutan biru dengan penuh ketelitian? lalu harus bersabar menunggu cetakan itu dikeringkan dengan penjepit?

rindukah pada bunyi cetak-cetik mesin tik yang terdengar bagai ritme musikal?

ingatkah pada debaran detak jantung yang dirasa kala kita mengira-ngira apakah kekasih sudah menerima suratnya? lalu debaran detak jantung yang dirasa kala kita mengira-ngira apakah kekasih merasakan kerinduan hati yang amat sangat yang telah tertuang dengan indahnya dengan tulisan tangan berpena biru dan tanda cium dengan cap bibir merah merekah? apakah kekasih merasakan perjuangan kita dalam menulis indah dari awal hingga penghabisan surat?

ingatkah masa ketika kita membuat nasi uduk dengan mengaduk beras dengan bumbu, merendamnya, lalu menanaknya, di benak hanya terlukis rasa bahagia yang tak terkira dari pasangan dan anak-anak untuk mencecap hasil kreasi yang sehat dan penuh cinta? cinta yang merupakan berkah bagi keluarga karena ada doa di dalamnya?

ingatkah kita pada olah rasa yang bermuara pada kesabaran dan ketelitian?

Monday, November 14, 2011

pencipta ketidaknyamanan tanpa sadar

siang itu terik sekali. angin dari alat pendingin restoran itu pun tidak terasa berdesir. kami, para pelanggan setia, rela mengantri demi kebutuhan perut yang tengah berbunyi. dan ada seorang bapak-bapak yang dengan galaknya menjawab telepon di ujung sana. saya yakin, dalam hitungan 30 detik, telepon itu akan dibantingnya.

kami hanya dengan pasrahnya mendengarkan segala unek-unek si bapak-bapak itu. alhamdulillah, telepon itu tidak dibantingnya.tetapi kami semua mengetahui masalah yang sedang dihadapi bapak-bapak itu.

saya pun bertanya-tanya apakah bapak-bapak itu marah dalam keadaan sadar? sadarkah ia masalahnya diketahui banyak orang? sadarkan ia kemarahannya mengganggu segenap pengantri?

pastinya ia tidak sadar. persis dengan perilaku kebanyakan orang yang menceritakan segala masalah yang dihadapinya dalam kotak status Facebook, yang seharusnya dipergunakan untuk melaporkan kejadian terkini dari seseorang, untuk berbagi kejadian lucu yang bisa membuat orang lain terhibur, ataupun segala sesuatu yang baik disyiarkan.

ada yang berkisah suaminya sudah lama tidak membelai rambutnya. ada pula yang berkeluh kesah tidak punya uang. ada pula yang dengan bangganya pamer membeli mobil baru.

rasanya mulut ini ingin berteriak who cares? siapa yang peduli? seharusnya masalah rumah tangga ditutup rapat-rapat. apabila ingin curhat, ceritakan pada sahabat terdekat atau psikolog kepercayaan untuk mendapatkan solusinya. seharusnya masalah keuangan segera dicarikan solusinya. seharusnya kepemilikan mobil baru disyukuri dengan memanjatkan doa pada-Nya agar mobil baru itu menjadi alat untuk mencari nafkah yang halal dan berkah. bukan menjadi bahan pamer.

orang-orang itu tak sadar bahwa ratusan pasang mata teman-temannya yang masuk dalam daftar teman situs pertemanan ini membaca apa yang ia kemukakan. orang-orang itu tak sadar telah membuat ratusan teman-temannya merasa risih.

mungkin empati itu sulit sekali dilakukan. hanya sedikit orang mau membayangkan diri berada di sepatu orang lain.saya juga dulu pernah curhat di status tersebut. dan saya melakukannya tanpa sadar. namun setelah saya melihat teman-teman melakukan hal yang serupa, perasaan yang hadir bukannya rasa iba, melainkan risih bukan kepalang.

memang sulit untuk mengendalikan amarah dan hawa nafsu lainnya. apabila marah ini ditahan, dada terasa sesak. rasanya ingin diluapkan saja. tetapi mungkin ini bisa terjadi apabila seseorang sedang sendirian. sungguh meluapkan amarah di depan anggota keluarga ataupun publik membuat ketidaknyamanan. jangan sampai diri ini dapat sebutan pencipta ketidaknyamanan tanpa sadar.

kata orang bijak, untuk bisa menahan diri agar tidak meledak, seketika ingatlah Allah. ucapkan astaghfirullah. lalu berzikir dan berzikir. insya Allah amarah itu menghilang seketika. seandainya saya bisa beritahu si bapak itu. seandainya si bapak itu bisa membaca pikiran saya.

"selamat siang, mau pesan apa, Mbak?" lamunan itu buyar. tanpa disadari saya sudah berada di antrian paling depan. dan sungguh batin ini mendadak sejuk melihat senyum mengembang dari wajah pelayan. alhamdulillah. ternyata masih ada senyum tulus di wajah manusia.





Thursday, October 20, 2011

luka jiwa yang berkelana


Kutatap wajahmu lekat-lekat. Ketika aku masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Dokter memvonis diriku koma. Itu ragaku. Bukan jiwaku. Mata jiwaku melihat kedukaan itu di matamu. Air mata yang tak berhenti bercucuran, bibir yang bergetar. Kamu sangat sedih rupanya. Tapi aku tak percaya.

Kutatap wajah saudara-saudaraku, para sahabat dan teman lekat-lekat. Ketika jasadku dibaringkan di tempat persemayaman terakhir. Kalian dibalut kain hitam dan kaca mata hitam. Kudengar bisik-bisik lirih memanggil namaku. Kudengar Yasiin dilantunkan. Kudengar deru tangis. Kalian sangat sedih rupanya. Tapi aku tak percaya.
Bagaimana aku bisa percaya? Teringat aku kala tubuh dan jiwa ini menyatu di sebuah dunia fana. Kamu, suamiku, dengan dalih sudah menikah, tak pernah menggandeng tanganku bila berjalan berdampingan. Apalagi ucapkan kata cinta, tak pernah kudengar terucap dari mulutmu. Padahal dulu pada masa perjuangan merebut hati, kamu hujani aku dengan kata itu sampai jiwa ini tersanjung.
Aku tak pernah merasakan rasa terima kasihmu atas kehadiranku di sisimu. Pergi ke kantor sedari pagi, pulang larut malam. Kamu tak pernah bertanya rindukah aku padamu. Hanya amarah yang kudapat karena kamu terlampau lelah. Bukan senyum. Bukan canda. Bukan peluk dan cium.

Sedangkan kalian, saudara, sahabat dan temanku, kemana saja kalian? Selama jiwa dan raga sehat walafiat, hanya sekali dalam dua musim kujumpa wajah-wajah kalian. Dengan banyak alasan kalian tak pernah bersilaturahim denganku. Dengan dalih rumahku jauh padahal masih dalam satu kota, karena sibuk luar biasa, maka bentuk rindu atau bertukar kabar dengan kiriman kata-kata lewat media super dahsyat bernama sms saja. SMS itu yang menggantikan peran mulut untuk berbicara dan peran telinga untuk mendengar yang sebelumnya menjadi media bertukarnya informasi.
Itulah manusia, kurang menghargai kehadiran jiwa yang ditiupkan-Nya ketika masih di kandungan bunda. Cenderung menyia-nyiakan keberadaan sesama ketika kaki mereka masih berpijak pada bumi yang sama. Waktu yang ada diremehkan. Bukannya dipergunakan sebaik-baiknya. Padahal semua tahu bahwa kapan pun setiap manusia akan berpulang, seperti makhluk Tuhan lainnya. Mereka baru sadar betapa berartinya sesuatu dalam hidupnya ketika sesuatu itu hilang darinya.
Jiwa ini berkelana. Kudapati dirimu, suamiku sibuk menulis. Dibantu penulis andal. Rupanya dirimu tengah membuat buku, berjudul In Memoir of My Lovely Wife. Kudengar batinmu berkata itu bentuk rasa kehilangan yang dalam, juga untuk mengangkat citra sebagai suami yang penyayang dan penuh kasih. Kalian juga turut menuliskan sepatah dua patah kata untuk testimonial. Penuh kata-kata cinta, merindu, serta segala bentuk puja dan puji.
Sungguh, aku terluka. Mengapa suamiku menulis buku itu ketika aku telah tiada di sisinya? Mengapa segala bentuk penghargaan dari semua datang bertubi-tubi kala jiwa ini tlah berkelana dan jasad terkubur di dalam? Buku itu sebenarnya untuk siapa? Untuk inspirasi? Aku bukan pahlawan atau tokoh penting bagi bangsa yang rakyatnya kurang rasa empati ini.
Aku bukan cenayang, yang tahu apa isi benak dan hati orang lain. Tunjukkanlah aku ini berharga bagimu dan kalian. Tak usah dengan kata bila kamu dan kalian tak mau. Kemampuan mata untuk memandangiku dengan mesra. Kemampuan bibir yang mengukir senyum. Kemampuan telinga untuk mendengar kisah, lelucon atau keluh kesah. Kemampuan tangan untuk merengkuh tubuh yang kelelahan. Peluk dan cium untuk melumerkan kegelisahan.
Seandainya aku tahu bahwa suamiku, saudaraku, para sahabat dan temanku sebegitu mencintainya, jiwa ini akan memperjuangkan kebersamaannya dengan raga. Jiwa ini akan memohon pada-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Penyembuh.

bertemu jodoh

Suatu hari saya pernah diminta seorang narasumber untuk bertemu dengannya di stasiun TV di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Suatu perminta...

© the mind reads, the heart speaks
Maira Gall