Thursday, February 23, 2012

kenikmatan sejati









Demi kenikmatan, tubuh saya pernah merasa tersiksa.

Kenikmatan ada dimana-mana. Nikmatnya makan coklat, nikmatnya berenang, nikmatnya tiduran sembari ditemani musik favorit atau membaca buku yang menyentil jiwa.

Tetapi ada kenikmatan yang belum pernah saya rasa. Salah satunya adalah merokok. Heran dengan banyak teman yang rela dihukum karena merokok atau menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Saya pun ingin tahu kenikmatan di baliknya. Maka ketika duduk di bangku SMP, ada niatan untuk mencoba. Tetapi sekali saya hisap puntung rokok itu, saya terbatuk dan kemudian hampir muntah. Langsung trauma. Sejak itu saya berjanji pada diri sendiri untuk tak akan menyentuh barang kecil berbau khas itu.

Ketika kuliah, saya mengabaikan janji itu. Terinspirasi mantan pacar. Yang tadinya tidak merokok, jadi perokok berat. Memandanginya meletakkan benda mungil di mulutnya dengan jari jemarinya yang terkulum ringan, menghisapnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskan asap dari mulutnya. Matanya sesekali menyipit. Kenikmatannya terasa sekali pada orang yang melihat dengan saksama seperti saya. Saya pun tergerak untuk melakukan hal yang sama. Sembunyi-sembunyi di wc umum sebuah mal. Dengan penghayatan yang sama pula. Dan apa yang terjadi? Kali ini saya muntah betulan.

Cukup di situ. Sungguh bodoh saya. Dalam hati saya bersyukur, untung saya melakukannya di wc umum. Seandainya saya mencobanya di depan mantan pacar saya yang perokok berat itu, atau di depan teman-teman perempuan saya yang mayoritas perokok, atau di halte dimana banyak orang menunggu bis sembari merokok. Mungkin lebih dari cemooh yang akan saya terima.

Mengenai perempuan merokok, sempat terjadi diskusi kecil-kecilan ketika menanti jam masuk kuliah di Depok dulu. Pada waktu itu hampir semua gempar melihat Demi Moore yang berpose sebagai sampul majalah asing terkemuka, dengan baju maskulin plus cerutu bergelayut di bibirnya. Sejak itu banyak perempuan tampil maskulin dengan puntung rokok bergelayut di bibir mereka. Yah apa daya, mampunya beli rokok, bukan cerutu.

Dalam diskusi itu teman perempuan saya mengaitkan keseksian dengan rokok. Katanya perempuan merokok itu seksi, seperti Demi Moore. Bagi saya sebenarnya, apa saja yang dilakukan Demi Moore itu seksi tanpa harus ada rokok ataupun cerutu di bibir. Seksi dengan rambut cepaknya yang ditiru sejuta umat perempuan sedunia, tampil bugil kala hamil yang ditiru puluhan artis sedunia, termasuk seorang artis lokal kita, tampil mempesona di film the new Charlie's Angels sampai-sampai banyak penonton tidak menggubris kehadiran ketiga malaikat dalam film itu. Keseksian dia yang lain saya tidak tahu, mungkin bisa ditanyakan pada Ashton Kutcher.

Lalu dari situ, saya buat riset kecil-kecilan juga dengan bertanya pada beberapa teman lelaki. Yang membuat saya terlonjak adalah kesaksian mereka bahwa perempuan yang merokok itu sama sekali tidak tampil seksi. Kata mereka perempuan seksi itu adalah perempuan yang mengerti femininitasnya dan dapat mengeksplorasi kefemininannya itu dengan penuh percaya diri. Bukannya dengan membangunkan sisi maskulinitas lalu ikut-ikutan kebiasaan lelaki seperti merokok. Itu kata beberapa teman lelaki saya yang memang tidak suka dugem. Harusnya saya tanya juga kepada beberapa yang suka dugem atau bergaul kesana kemari. Mungkin jawabannya berbeda.

Yah, itu dari sekedar ingin tampil seksi. Tapi bagaimana dengan yang memang mencandu? Candu itu berasal dari nikmat. Proses kenikmatan itulah yang pernah saya cari, dari ikut-ikutan teman dan terinspirasi dari mantan pacar. Dan nyatanya kegagalan yang saya raih.

Kalau ditanya mengapa saya tidak merokok. Bukannya karena saya perempuan konservatif. Bukannya karena saya tahu ada seribu satu racun yang terkandung dalam satu hisapan rokok. Tetapi karena tubuh saya yang tidak mau dan tidak dapat menerima.

Hal ini terjadi pula ketika saya mencoba untuk ikut-ikutan menikmati minuman anggur atau wine. Waktu itu saya masih berkuliah di kota pelajar negeri kangguru. Sudah menjadi tradisi di sana seusai ujian akhir, satu kelas berpesta di sebuah rumah salah satu murid. Karena teman saya sudah menyediakan rumah, maka yang lainnya termasuk saya wajib membawa perbekalan untuk dicemil. Sebagian besar membawa wine, ada juga yang bawa coklat, sementara saya membawa keripik kentang. Awalnya tidak pede, tapi nyatanya, keripik kentang yang saya bawa justru yang paling laris dicemil.

Gelas-gelas wine tersedia menyebar di meja bundar. Karena kita duduk melingkari meja tersebut. Bercanda ria, sambil saling mencela. Lama-kelamaan saya bosan dan tiba-tiba saja hinggap rasa penasaran saya untuk mencoba segelas wine yang tersedia itu. Tanpa rasa takut ataupun dosa, saya ambil satu, yang terisi wine putih. Meski sebelumnya teman-teman saya yang semuanya native itu menyangsikan saya bisa minum, akhirnya bisa menerima bahwa sepertinya tidak ada gejala aneh yang hinggap pada diri saya. Maka saya pun ditawari segelas lagi. Kali ini wine merah. Kata satu teman saya, sebelum minum yang merah, harus minum segelas air mineral dulu. Saya turuti saja, tanpa tahu itu untuk apa. Lalu saya tenggak yang merah. Rasanya biasa saja. Saya penasaran bagaimana rasanya mabuk. Karena saya tahu, puncak kenikmatan adalah ketika mabuk. Saya tenggak lagi yang merah. Sekali lagi, tanpa rasa takut dan dosa. Padahal saya tahu ibadah saya selama 40 hari ke depan nanti tidak akan diterima.

Sepulang dari rumah teman, saya nyaris tidak merasakan apa-apa yang aneh dalam diri saya. Termasuk rasa nikmat yang saya cari. Padahal saya sangat sadar bahwa saya sudah menenggak sekitar 5 gelas wine. Harusnya saya sudah mabuk atau at least merasakan kenikmatan yang dipuja-puja penggemar wine. Sepanjang perjalanan pulang saya rasa-rasa, tetapi sia-sia belaka. Saya baru merasakan hal aneh pada diri saya sesampai di flat. Tiba-tiba saja tubuh saya gatal-gatal dan muncul bintik-bintik kemerahan di sekujur tubuh. Saya panik. Apakah saya keracunan. Roommate saya pun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Obat apa yang harus saya minum pun saya dan roommate tidak tahu. Akhirnya dengan menebas rasa sejuta malu, saya menelpon ibu di Indonesia. Saya mengaku dosa bahwa saya telah minum. Dan saya gatal-gatal. Dengan suara lembut ibu saya bilang untuk minum incidal yang memang sudah disiapkan ibu ketika saya hendak kembali menempa ilmu. Betul benar. Sejak minum obat itu, perlahan-lahan gatal itu sirna. Ternyata, kata seorang teman yang bukan roommate saya, saya alergi yeast. Ampun!

Kalau ditanya kenapa saya tidak minum. Bukannya, sekali lagi, karena saya perempuan konservatif. Bukannya saya tahu khmar atau minuman sejenis dilarang untuk diminum oleh agama, karena dosanya lebih besar ketimbang manfaatnya. Tetapi karena, sekali lagi, tubuh saya yang tidak mau dan tidak menerima.

Nyatanya meski pernah tersiksa demi kenikmatan, itu tidak pernah membuat saya kapok untuk terus mencari. Butuh waktu tidak lama untuk akhirnya saya menemukannya. Pertama yakni dari secangkir kopi. Kata orang bijak, kenikmatan itu baru dapat dirasa ketika tidak hanya satu indera yang bekerja dan terangsang ketika mencecap sesuatu. Dan semua itu saya dapat dari secangkir kopi. Tidak hanya indera pencecap saya yang dimanjakan oleh rasanya yang khas, tetapi juga indera penciuman, dimana rasa dihantarkan olehnya ke benak sampai-sampai saya merasa produktif ketika meminum kopi. Kalau kata orang kopi membuat orang tidak tidur. Itu tidak berlaku pada saya. Dan saya akui kalau saya saat ini mencandu kopi yang kehadirannya di bumi sungguh merupakan berkah bagi saya dari-Nya.

Ketika saya menikah, saya temukan lagi kenikmatan lainnya yang membuat saya lebih bahagia. Yakni dari bercinta (sudah jelas semua indera termanjakan), rasa setelah melahirkan ketika melihat bayi yang sehat dan sempurna keluar dari rahim (indera penglihatan dan peraba terangsang, yaitu ketika mendekap bayi yang masih sedikit berlumuran darah dan asyik mengonsumsi ASI yang pertama), dan ketika saya bercanda dengan ketiga buah hati (indera penglihatan, peraba, dan pendengaran).

Terlebih lagi ketika keimanan diasah. Dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an, sholat, berzakat, dan berpuasa, saya juga merasakan kenikmatan itu. Karena saya baru tahu bahwa dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an dengan tajwid yang benar dapat merangsang tidak hanya indera penciuman, tetapi juga indera pendengaran. Karena pada saat mulut melafalkan ayat-ayat tersebut ada dengungan yang keluar dari hidung tetapi masuk ke dalam telinga yang kemudian membuat benak terlena.

Sholat pun demikian. Ketika saya merasakan komunikasi secara langsung dengan Tuhan, dengan melantunkan ayat-ayat Qur'an serta doa-doa sembari saya tundukkan kepala. Karena saya tahu Dia ada di sana mendengar pinta saya, makhluk sebutir pasir di tengah lautan. Kepasrahan yang dalam itu yang membuahkan kenikmatan, dimana tubuh saya tergetar. Dari zakat, saya bisa merasakan kebahagiaan orang lain yang justru membuat saya lebih bahagia. Itu juga membuat saya tergetar, bahkan hampir menitikkan air mata. Dari puasa, saya merasakan kenikmatan berupa kesehatan lahir batin. Kalau haji saya belum tahu, tetapi saya yakin akan ada kenikmatan yang maha mutlak yang akan saya raih apabila saya singgah di rumah-Nya.

Pada akhirnya saya menemukan kenikmatan yang tidak menyiksa tubuh saya. Dan itulah kenikmatan sejati.